Wacana memindahkan pusat pemerintahan atau ibukota Indonesia ke kawasan selatan Jakarta khususnya Jonggol sudah lama bergulir. Namun kini wacana tersebut kembali muncul. Kenapa?
Kepala Bidang Tata Ruang Perencanaan Ruang Kota Dinas Tata Ruang Pemprov DKI Jakarta, Izhar Chaidir mengungkapkan ada banyak cara untuk mengatasi kondisi ruwet seperti sekarang ini. Salah satu skenarionya adalah dengan memindahkan ibukota ke daerah lain.
"Kalau berani mengambil keputusan, misalnya ibukota pindah ke Jonggol. DKI Jakarta bakal putus, lancar. Mungkin memang memerlukan waktu 5 sampai 10 tahun, tapi bakal lancar," ungkap Izhar kepada detikFinance di Kantor Kementerian Pekerjaan Umum, Rabu (7/11/12).
Ia mengatakan, semua ini tergantung dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah yang memegang kekuasaan. "Masalah itu tergantung pimpinan. Jadi cepat atau nggaknya mengatasi kepadatan, itu tergantung pimpinan, kebijakan pimpinan," tegasnya.
Dalam kesempatan itu juga ia mengatakan, kebijakan pemerintah untuk mengurangi kendaraan pribadi dan mengutamakan kendaraan umum pun sangat diperlukan.
"Kita utamanya pembangunan angkutan umum tapi tidak bisa mengabaikan kendaraan pribadi. (Contohnya) MRT itu perlu waktu lama, jadi busway itu sementara dulu," cetusnya.
Kondisi jalan di Jakarta sangat padat dan macet parah. Bahkan, beberapa waktu lalu, situs media asing merilis daftar 7 kota dengan lalu lintas terburuk, DKI Jakarta masuk ke dalam daftar tersebut.
0 komentar:
Posting Komentar